RSS

Si Kembar

31 Jan

Namanya Syaifullah dan Syaifuddin, tapi biasa dipanggil aa’ dan abang. Mereka anak kembar sekolah dasar (SD) yang belajar mengaji di surau tempat dulu saya tinggal. Kembar dengan “perbedaan” yang tampak jelas. Aa’ yang lebih tua, posturnya tidak segempal si abang… Abang lebih gemuk dan berpipi tebal, yang selalu jadi sasaran empuk untuk melepaskan rasa gemas saya karna melihatnya…tentu dengan mencubit pipinya itu sampai puas…

Ada yang sangat menarik bagi saya tentang mereka. Saat itu “ketika” masih berstatus mahasiswa fakultas pertanian Unand, saya ada jadwal kuliah siang pukul 13:30. Seperti biasa, setelah shalat zuhur dan berkaca beberapa menit mengamati penampilan keren saya (ehm..), saya menuju kampus dengan bus kampus dan menunggu kedatangan bus kampus di dekat gerbang kampus ( semoga bisa dimengerti tentang kosa kata “kampus” yang banyak). Berhubung tempat pemberhentian bus terdekat dengan tempat saya tinggal memang di situ.

Cukup lama juga menunggu kedatangan bus, maklum siang adalah waktu istirahatnya para pengemban amanah bus untuk shalat dan makan siang. Siang itupun sinar matahari cukup terik, sehingga akan lebih baik jika menunggu sambil berteduh. Tapi sayangnya di tempat saya menunggu tak ada tempat berteduh…wah, kekerenan saya terancam nih..hehe…

Beberapa oplet yang lewat menawarkan diri untuk ditumpangi, tapi saya tolak dengan halus karena dompet saya lagi “ngambek”..maklumlah mahasiswa. πŸ™‚

Sebuah oplet berwarna hijau berhenti lagi didepan saya untuk menurunkan penumpang. Seorang ibu dengan bawaan yang cukup banyak dalam beberapa kantong plastik cukup besar, dengan analisa matang saya memperkirakan beliau baru selesai berbelanja kebutuhan sehari-hari untuk kelurga tercintanya di rumah. Sebenarnya sudah cukup lama saya tinggal dilokasi ini, tapi rasanya baru sekali ini melihat beliau. Memori otak saya putar ulang untuk mengira-ngira siapa gerangan ibu ini, tetapi memang tak ter “save” dan memang saya tidak tau sama sekali. Padahal saya merasa sudah mengenal semua warga disini sekalipun itu hanya wajah, tapi untuk kali ini saya sadar kalau kepopuleran saya belum merambah hingga kedesa-desa… :D. Harus lebih banyak silaturrahmi lagi rupanya…

Selesai membayar ongkos dan menaruh barang-barang bawaannya, beliau memanggil. Tidak begitu jelas nama siapa yang dipanggil. Lagipula suara beliau tidak begitu keras, mungkin karena letih sehabis belanja dipasar. Tapi tiba-tiba saja sepasang anak kembar yang saya sebut diawal, merespon dengan berlari kencang dari sebuah rumah dan saling mendahului. Kontan saja saya terkejut… Bagaimana tidak, walaupun rumah tersebut masih tampak terlihat tetapi jarak rumah itu dari tempat kami berdiri ini cukup jauh.. Apalagi dengan suara panggilan yang ukuran kerasnya saya nilai “standar”, saya sangsi suara itu mampu menjangkau jarak yang begitu jauh.

Luar biasanya, mereka mampu mendengar panggilan itu, dan langsung mendekati sang ibu serta mengangkut seluruh barang belanjaan tanpa disuruh. Dan ternyata ibu itu adalah ibu mereka. Tanpa berebut memilih bawaan yang paling ringan, mereka langsung ambil semua yang ada disana tanpa menyisakan untuk ibunya. Sang ibu kembali kerumah dengan tangan kosong, ditemani kedua anak kembarnya yang berjalan dengan senang (saya melihat senyum anak-anak itu ) sambil membawa barang belanjaan.

Saya tertegun cukup lama, mencoba “mengetes” kembali telinga saya. Normal, tak ada yang salah dengan pendengaran saya dan akhirnya tersenyum sendiri. Perasaan lega entah dari mana datangnya segera hinggap di hati saya πŸ™‚ bukan karena telinga saya baik-baik saja tetapi karena bakti luar biasa sepasang anak kepada ibunya yangsaya lihat.

Bersyukur luar biasa karena ALLAH SWT telah memperlihatkan kisah ini kepada saya. Sebuah kuliah langsung saya dapatkan sebelum masuk kuliah. Sebuah keyakinan yang selalu saya pegang dan tak ingin saya lepas adalah mempercayai bahwa adik-adik yang saya ajar disini adalah anak baik…dan ternyata itu benar πŸ™‚

Mereka seperti anak-anak lainnya, main bola, layangan, mandi-mandi disungai, kadangpun berkelahi πŸ™‚ tapi ikatan hati dan baktinya kepadaorang tua sungguh luar biasa…salut.

Sebuah buku yang saya baca menuliskan “setiap manusia adalah hamba Tuhan dan anak sebelum apapun”. Dan kitapun adalah bagian dari “anak”. Tentunya setiap diri akan mengharapkan keturunannya kelak menjadi anak yang shaleh dan shalehah, berbakti pada orang tuanya.

Tak ada dari kita yang menginginkan anak yang suka membantah setiap perkataan, mengeluh setiap disuruh, menunda setiap instruksi yang diberikan, atau bahkan memiliki anak yang durhaka, seperti malin kundang. Perlu difahami bahwa kedurhakaan yang diperankan oleh malin kundang adalah kedurhakaan tingkat tinggi. Artinya jika sikap tidak mengakui,menghina, dan menyakiti orang tua terutama sang ibu adalah kedurhakaan level tinggi. Tentunya ada Durhaka yang tingkat bawah, mendongkolkah itu, bermuka masam, membentak atau bersungut sungut ketika mengerjakan perintah ibu.

Terlepas oleh tingkatan durhaka, yang jelas durhaka tetaplah durhaka dan keredhaan ALLAH SWT tak akan turun kepada mereka yang durhaka… Kita menginginkan seorang anak yang berbakti atau bahkan lebih dari itu. Pertanyaanya sekarang adalah “Bakti apa yang sudah kita lakukan kepada orangtua terutama ibu…?”

Ah, Bus kampus sudah datang…semoga kelak mereka menjadi anak yang lebih baik dari hari ini…

Iklan
 
17 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 31, 2011 in Goresan pena

 

17 responses to “Si Kembar

  1. Adelio de Granada

    Januari 31, 2011 at 9:16 pm

    Assalamu’alaikum wr wb.
    Jazakallah atas tulisannya Kak Marde.
    Jd ingat ketika sholat Tarawih di mushalla ini ^_^.

     
    • kakmarde

      Januari 31, 2011 at 11:39 pm

      wa’alaikumussalam wr wb…
      iya bang, waktu itu bareng al akh dari kedokteran ya bang.
      Rindu kumpul bareng abang lagi
      Keenakan ya bang di Madrid…^_^

       
  2. rangtalu

    Februari 1, 2011 at 3:52 am

    subhanallah
    mantap.. semoga kita bisa menjadi anak yang berbakti

     
    • kakmarde

      Februari 1, 2011 at 3:00 pm

      insyaallah akh…
      hutang lunas..:)

       
  3. administrator

    Februari 3, 2011 at 4:35 pm

    pendengaran abang ndak salah. hitler pun punya sisi untuk diteladani

     
  4. Ibnu bacjar

    Februari 3, 2011 at 4:39 pm

    terimakasih bang. smoga kisah ini mampu mendorong penulis dan pembaca untuk berbakti pada orang tua

     
  5. fadlan Ariwibowo

    Februari 3, 2011 at 4:45 pm

    mantaaap

     
  6. ajo yayan

    Februari 4, 2011 at 5:59 am

    subhanallah marde kokarde. Inspiratif^^. koj gak ditag yayan ya?

     
    • kakmarde

      Februari 4, 2011 at 5:15 pm

      hehe..iya deh yan..afwan..insyaallah nanti di tag in ya pak dokter…^_^

       
  7. nini marta

    Februari 4, 2011 at 11:31 am

    bagus marde…
    ternyata marde punya bakat mjd seorg penulis..
    moga tulisannya bisa menginspirasi pembaca…
    tentunya jd ank yg brbakti n mnusia yg lbh baik..

     
    • kakmarde

      Februari 4, 2011 at 5:15 pm

      Amin buk nini..semoga bermanfaat… ^_^

       
  8. rangtalu

    Februari 15, 2011 at 11:26 am

    assalamu’alaikum..

    ada award untuk penyemangat menulis.. silahkan di ambil..
    http://rangtalu.wordpress.com/2011/02/15/dua-award-lagi/

    semoga semakin produktif

     
  9. joe

    Februari 17, 2011 at 12:09 pm

    sebuah kisah inspiratif, salam kenal

     
    • kakmarde

      Februari 25, 2011 at 12:45 pm

      πŸ™‚ salam kenal juga…

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: