RSS

Pindah ulang

Kado untuk mas Teguh Nugraha SPd yg akan menyempurnakan dien…semoga bermanfaat mas…

oleh Marde Syahni Abdul Latif pada 19 Mei 2010 jam 8:25

asslamu’alaikum wr wb…

Bismillahirahmanirrahim..

Sebuah tulisan singkat,sengaja ku persembahkan untuk kakandaku yang akan berbahagia karena setengah dari agamanya akan segera tercukupi…

Sebuah medan yang bertebaran banyak pahala di dalamnya…

Medan yang bernama keluarga….,lewat ibadah yang bernama NIKAH…

Tak lama lagi “mas” ku,seorang pemuda tangguh nan berhati lembut akan menjadi suami bagi seorang isteri yang juga akan menjadi ibu kepada anak-anak nya kelak…?

Salut…sebuah ekspresi yg spontan keluar dari hati ini…jujur tanpa dibuat2…karena diri ini sendiri masih dipenuhi dengan ketakutan untuk dapat mengikuti hal yg sama dengan mas…

luar biasa…kebanggan itu muncul dari diri ini…pada “mas” ku…

Ada beberapa paragraf yang ade kutip dalam tulisan ini :

Dalam bukunya “Di Jalan Dakwah Aku Menikah” halaman 43, Ustaz Cahyadi Takariawan menyampaikan :

1. ” Jangan sampai menunggu kesiapan Anda mencapai 100%, sebab rasa-rasanya Anda tidak akan berada dalam suatu kondisi di mana bisa mengatakan telah siap 100%. Cukuplah persediaan Anda mencapai sebagiannya, lebih dari 50%. Sisa kekurangannya, bisa Anda lakukan bersamaan dengan proses menuju pernikahan itu sendiri.”

2.”Rasulullah SAW juga menyatakan, “Tinggalkan hal-hal yang meragukanmu menuju hal-hal yang tidak meragukanmu” (H.R. Tirmizi).”

3. ” Penting bagi Anda untuk berada dalam kondisi tidak ragu-ragu saat melakukan proses pernikahan. Anda harus berada dalam kondisi yang yakin bahwa Anda memang telah siap untuk menikah dengan segala resiko dan konsekuensi logisnya. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada Anda untuk bisa memiliki kesiapan yang optimal saat memasuki proses pernikahan.”

Kutipan singkat diatas ade harap memang bisa bermanfaat bagi mas…walaupun ade yakin sebenarnya mas sudah sangat memantapkan hati untuk hal ini…he..he..

Sungguh…

sangat beruntung sebuah rumah tangga yang didalamnya penuh dengan nuansa2 islam… sehingga berkah ALLAH SWT akan turun dengan mudahnya… Seorang suami yang menjaga istrinya 100%..betul2 menjaganya dari kobaran api neraka dan azab kubur…

Sungguh beruntung seorang suami yang selalu diingatkan oleh sang istri tercintanya akan kewajibannya sebagai imam dalam rumah tangga…

Begitu indahnya hari2 yg diisi dengan nasehat islami suami kepada istri usai shalat subuh, shalat tahajud berdua..mengaji bersama,memanggil dengan panggilan tersayang,bersama menyisihkan harta untuk sedekah,hingga puasa sunnah berdua…

Betapa bahagianya rumah tangga yg didalamnya ada istri yg selalu menantikan kepulang suaminya dengan zikir dan doa keselamatan bagi suami tercinta lewat shalat duhanya…

Betapa bahagianya sang istri yang diajak untuk belajar islam bersama,menghafal alquran bersama sebagai persiapan untuk sang buah hati kelak…

Betapa nikmatnya bersama2 dalam satu atap, yang diisi suami yang mengerti akan istrinya,dan istri sangat paham akan suaminya… masing2nya tidak meminta untuk dimengerti..,tetapi berusaha untuk dapat mengerti sang kekasih tercinta…

Senantiasa terdengar lantunan2 qurani yang menentramkan hati…panggilan2 lembut..pandangan2 kasih sayang…doa2 khusus untuk sang pendamping hingga rasa cemburu yang berpahala…

“Ada tiga golongan manusia yang tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat, yaitu: orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan ad-dayyuts…”

(HR. An-Nasa-i)

Dayyuts adalah orang (laki-laki) yang tidak memiliki kecemburuan terhadap keluarganya. Sebagaimana orang yang rela membiarkan istrinya berjabat tangan dengan laki-laki lain, atau membiarkan istrinya berpergian jauh sendirian, merelakan laki-laki lain bersenda gurau dengan istrinya dan sebagainya. Termasuk juga rela membiarkan orang lain menikmati kecantikan istrinya melalui foto-foto yang dipajangnya di blog, friendster, facebook atau sejenisnya.

Mereka terlalu percaya bahwa tidak ada seorang pun yang akan terpengaruh dengan foto-foto yang dipajang itu. Padahal mereka tahu bahwa syetan memiliki pintu masuk dari depan, belakang, kanan dan kiri. Atau memang kecemburuan itu yg tidak ada…

Cukuplah engkau yang menikmati kecantikan wanita mulia itu. Dan katakan “Sungguh saya tidak rela berbagi istri dengan siapapun.( akh rahmat firdaus)

Sungguh suami adlah seorang pemimpin rumah tangga, penentu arah tujuan dalam lautan kehidupan bersama… Syurga ataukah neraka perhentian kapal itu kelak…sang suami lah yg peling bertanggung jawab…

maka sangat dibuthkan suami yang arif dan bijkasana untuk membimbing sang istri kepada islam yang sempurna..

Setiap yg dilakukan suami untuk keluarganya karena ALLAH SWT,maka itu adalah ibadah dan berpahala…kesempatan yg begitu besar untuk meraih pahala…

Selamat menempuh hidup baru mas…ada stitik kesedihan sebenarnya di hati ini..karena masa2 lajang tak lagi bisa kita nikmati bersama, akan sulit mungkin untuk bisa mancing sama2,jalan2 bersma mas lagi…atau latihan kayak dulu lagi(^_^)…

Tapi doa akan selalu ade panjatkan untuk mas dan keluarga… Semoga hidayah,rahmat dan berkah selalu ALLAH SWT karuniakan untuk mas…

Selamat berbahagia masku,kakanda tercinta… semoga hati2 kita dipererat oleh ALLAH SWT…

keteguhan adalah sebuah anugrah…

Adinda

(marde)

semoga bisa segera menyusul….

Iklan
 
6 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 5, 2011 in Goresan pena

 

Kutipan Perjalanan

Pejalanan kedaerah Pasaman timur, tepatnya Lubuk sikaping beberapa waktu yang lalu membawa banyak kenangan manis. Bersama 2 rekan dari daerah Bogor kang Soni dan kang Fery. 2 orang praktisi handal dibidang motivasi ligkungan dan komposting. Ditemani seorang koordinator asli Bukittinggi, bang Oly. Diantara mereka semua ternyata sayalah yang paling muda, kang Fery satu tahun lebih tua sedangkan kang Soni dan bang Oly berumur jauh lebih tua dan telah berkeluarga. Kang Fery dan kang Soni asli Sunda, jadi otomatis saya menemukan keinginan saya untuk belajar langsung dari mereka. Belajar tentang budaya dan bahasa mereka, karena saya begitu berharap dapat memiliki sifat2 baik dari mereka. Seperti yang saya duga, mereka memiliki kelembutan hati yang luar biasa. Tutur bahasa yang santun, sikap sopan, kerajinan, serta kegigihan yang luar biasa dalam bekerja. Dan latar belakang mereka semua benar2 membuat saya terkesima.

Agenda kami saat itu di jadwalkan 10 hari untuk melatih kelompok tani di jorong kampung padang tentang lingkungan, komposting, pembuatan EM4, pupuk tunggal dan pestisida nabati. Berhubung kami dapat menyelesaikan amanah lebih cepat dari waktu yang ditetapkan, maka sisa hari kami manfaatkan untuk menikmati suasana dan berwisata ke kota Bukittinggi. Kami menginap di rumah bang Oly, dan disinilah salah satu hal yang menarik sekali lagi saya temui.

Pagi itu, dirumah yang sangat asri dikelilingi petakan2 sawah. Usai shalat subuh dan mandi pagi (brrr…dingin minta ampun) kami duduk bersama untuk sarapan pagi. Segelas teh hangat dan kue ringan sebagai pembuka saya sikat dengan nikmat (hehe..jarang2 dapat nih,maklum ngekos.. 😀 ). Ditemani kedua “Akang akang” dan keluarga bang Oly, dingin pagi itu segera teratasi dengan sukses (hmm…jadi pengen lagi nih..). 2 orang anak kecil juga ikut menemani kami makan dan minum bersama. Mereka Walid ( berumur sekitar 5,5 tahun) dan Uki ( sekitar 3-4 tahunan) artinya Uki jauh lebih kecil dibanding Walid. Ini yang membuat saya menjadi lebih enjoy, karena ada anak kecilnya.

Usai segelas teh dan kue ringan, lanjut dengan sepiring lontong (hehe..rejeki nggak kemana..mantap!!!) sebagai bagian dari program “perbaikan gizi ” saya. Tidak lama bagi saya untuk menyelesaikannya, begitupun kedua akang dari sunda. Walaupun mereka dari sunda, tapi makanan pedas tak menjadi masalah. Tinggal Uki dan Walid yang sedang berlomba. Dengan  tenang walid menyantap makanan, ditemani Uki. Uki makan bersebelahan dengan Walid dan selalu memperhatikan suapan2 walid.

Setelah beberapa saat, Uki berkomentar spontan pada Walid   “Pedes bang..?”

“ndak”, jawab walid (karena walid memang suka pedas) .

Uki kembali memperhatikan dan berkomentar   “barajalah makan padeh” (“belajar makan pedes dong”)…   (lah..gimana tho???)

Kontan bang Oly tertawa, dan bilang  “Uki aja makannya cuma sama telur rebus sama nasi putih terus, bilangin abang pulak belajar makan pedes…”

Sayapun otomatis tertawa mendengarnya (hahaha..dasar anak2..polos sekali), sedangkan Uki yang malu segera saja menyembunyikan mukanya dibalik punggung bang Oly… (hahaha..)

Cerita inipun berlanjut beberapa saat diantara kami, dengan tawa kecil tentunya. Uki…? masih malu tuh..hahaha..

Anak adalah titipan ALLAH SWT yang mesti di jaga dan di bina dengan baik. Mereka lahir dalam kondisi polos seputih kertas. Lingkungan sekitarnya lah yang akan mewarnai dirinya, dan  tugas orang tualah untuk memproteksi sang anak. Uki mungkin memang tidak mengerti sama sekali dengan pernyataannya tadi. Tapi, untuk anak2 seumuran Uki masa ia saat ini adalah masa meniru apa saja. Baik tingkah laku dan perkataan. Anak seumuran ini akan sangat memperhatikan apa saja hal2 baru yang ditemuinya dan menyerap itu semua untuk dipraktekkan.

Akan sangat dibutuhkan orang tua yang benar2 dapat menjadi contoh tauladan yang baik. Setiap bimbingan dan didikan untuk menjadi anak yang shaleh dan shaleha adalah tugas utama sang ayah dan bundanya. Bagi mereka yang benar2 mengerti  kondisi lingkungan saat ini, akan sangat memahami bahwa memiliki anak bukanlah  hanya sekedar kebanggaan ataupun pelengkap status. Tapi merupakan tanggung jawab yang sangat besar dan berat.

Membiasakan sang anak untuk tunduk dan patuh kepada ALLAH SWT, bersikap lapang dada untuk setiap kondisi, menjadikan AL Qur’an sebagai kecintaan hati, menjadikan Rasullullah sebagai idola utama serta akhlak baik lainnya adalah sebuah pekerjaan yang bersumber dari tauladan sang orang tua.

Menyerahkan anak ke TPA ataupun MDA bukanlah solusi “terbaik” untuk itu semua, karena tugas mendidik adalah tanggung jawab sang Ibu dan Ayah. Walaupun mereka yang telah melakukan itu tergolong orang tua yang ikut memperhatikan keagamaan sang anak dan jauh lebih baik dibanding yang sama sekali tidak peduli dengan ilmu agama sang anak.

Seorang orang tua yang berada di neraka kelak, akan dapat ditarik kedalam syurganya ALLAH SWT jika ia memiliki anak yang shaleh/shaleha. Begitupun sebaliknya, orang tua yang sudah menjejakkan kakinya di syurga bisa saja ditarik kedalam neraka karena sang anak.

Mendidik anak  adalah salah satu bentuk ibadah kepada ALLAH SWT, dan sudah seharusnya beribadah dengan ikhlas dan penuh kesabaran.

Bagi yang belum, sekarang adalah waktunya untuk mempersiapkan diri untuk bisa menjadi teladan baik sang anak kelak (insyaallah). Bagi yang sudah….selamat, dan semoga goresan bisa menjadi sekedar pengingat..

satu lagi…tolong doanya juga agar bisa segera menyusul..heheh…

Gimana rekan2 yang belum..? satuju..?

 

^_^

 

 
18 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 28, 2011 in Goresan pena

 

Si Kembar

Namanya Syaifullah dan Syaifuddin, tapi biasa dipanggil aa’ dan abang. Mereka anak kembar sekolah dasar (SD) yang belajar mengaji di surau tempat dulu saya tinggal. Kembar dengan “perbedaan” yang tampak jelas. Aa’ yang lebih tua, posturnya tidak segempal si abang… Abang lebih gemuk dan berpipi tebal, yang selalu jadi sasaran empuk untuk melepaskan rasa gemas saya karna melihatnya…tentu dengan mencubit pipinya itu sampai puas…

Ada yang sangat menarik bagi saya tentang mereka. Saat itu “ketika” masih berstatus mahasiswa fakultas pertanian Unand, saya ada jadwal kuliah siang pukul 13:30. Seperti biasa, setelah shalat zuhur dan berkaca beberapa menit mengamati penampilan keren saya (ehm..), saya menuju kampus dengan bus kampus dan menunggu kedatangan bus kampus di dekat gerbang kampus ( semoga bisa dimengerti tentang kosa kata “kampus” yang banyak). Berhubung tempat pemberhentian bus terdekat dengan tempat saya tinggal memang di situ.

Cukup lama juga menunggu kedatangan bus, maklum siang adalah waktu istirahatnya para pengemban amanah bus untuk shalat dan makan siang. Siang itupun sinar matahari cukup terik, sehingga akan lebih baik jika menunggu sambil berteduh. Tapi sayangnya di tempat saya menunggu tak ada tempat berteduh…wah, kekerenan saya terancam nih..hehe…

Beberapa oplet yang lewat menawarkan diri untuk ditumpangi, tapi saya tolak dengan halus karena dompet saya lagi “ngambek”..maklumlah mahasiswa. 🙂

Sebuah oplet berwarna hijau berhenti lagi didepan saya untuk menurunkan penumpang. Seorang ibu dengan bawaan yang cukup banyak dalam beberapa kantong plastik cukup besar, dengan analisa matang saya memperkirakan beliau baru selesai berbelanja kebutuhan sehari-hari untuk kelurga tercintanya di rumah. Sebenarnya sudah cukup lama saya tinggal dilokasi ini, tapi rasanya baru sekali ini melihat beliau. Memori otak saya putar ulang untuk mengira-ngira siapa gerangan ibu ini, tetapi memang tak ter “save” dan memang saya tidak tau sama sekali. Padahal saya merasa sudah mengenal semua warga disini sekalipun itu hanya wajah, tapi untuk kali ini saya sadar kalau kepopuleran saya belum merambah hingga kedesa-desa… :D. Harus lebih banyak silaturrahmi lagi rupanya…

Selesai membayar ongkos dan menaruh barang-barang bawaannya, beliau memanggil. Tidak begitu jelas nama siapa yang dipanggil. Lagipula suara beliau tidak begitu keras, mungkin karena letih sehabis belanja dipasar. Tapi tiba-tiba saja sepasang anak kembar yang saya sebut diawal, merespon dengan berlari kencang dari sebuah rumah dan saling mendahului. Kontan saja saya terkejut… Bagaimana tidak, walaupun rumah tersebut masih tampak terlihat tetapi jarak rumah itu dari tempat kami berdiri ini cukup jauh.. Apalagi dengan suara panggilan yang ukuran kerasnya saya nilai “standar”, saya sangsi suara itu mampu menjangkau jarak yang begitu jauh.

Luar biasanya, mereka mampu mendengar panggilan itu, dan langsung mendekati sang ibu serta mengangkut seluruh barang belanjaan tanpa disuruh. Dan ternyata ibu itu adalah ibu mereka. Tanpa berebut memilih bawaan yang paling ringan, mereka langsung ambil semua yang ada disana tanpa menyisakan untuk ibunya. Sang ibu kembali kerumah dengan tangan kosong, ditemani kedua anak kembarnya yang berjalan dengan senang (saya melihat senyum anak-anak itu ) sambil membawa barang belanjaan.

Saya tertegun cukup lama, mencoba “mengetes” kembali telinga saya. Normal, tak ada yang salah dengan pendengaran saya dan akhirnya tersenyum sendiri. Perasaan lega entah dari mana datangnya segera hinggap di hati saya 🙂 bukan karena telinga saya baik-baik saja tetapi karena bakti luar biasa sepasang anak kepada ibunya yangsaya lihat.

Bersyukur luar biasa karena ALLAH SWT telah memperlihatkan kisah ini kepada saya. Sebuah kuliah langsung saya dapatkan sebelum masuk kuliah. Sebuah keyakinan yang selalu saya pegang dan tak ingin saya lepas adalah mempercayai bahwa adik-adik yang saya ajar disini adalah anak baik…dan ternyata itu benar 🙂

Mereka seperti anak-anak lainnya, main bola, layangan, mandi-mandi disungai, kadangpun berkelahi 🙂 tapi ikatan hati dan baktinya kepadaorang tua sungguh luar biasa…salut.

Sebuah buku yang saya baca menuliskan “setiap manusia adalah hamba Tuhan dan anak sebelum apapun”. Dan kitapun adalah bagian dari “anak”. Tentunya setiap diri akan mengharapkan keturunannya kelak menjadi anak yang shaleh dan shalehah, berbakti pada orang tuanya.

Tak ada dari kita yang menginginkan anak yang suka membantah setiap perkataan, mengeluh setiap disuruh, menunda setiap instruksi yang diberikan, atau bahkan memiliki anak yang durhaka, seperti malin kundang. Perlu difahami bahwa kedurhakaan yang diperankan oleh malin kundang adalah kedurhakaan tingkat tinggi. Artinya jika sikap tidak mengakui,menghina, dan menyakiti orang tua terutama sang ibu adalah kedurhakaan level tinggi. Tentunya ada Durhaka yang tingkat bawah, mendongkolkah itu, bermuka masam, membentak atau bersungut sungut ketika mengerjakan perintah ibu.

Terlepas oleh tingkatan durhaka, yang jelas durhaka tetaplah durhaka dan keredhaan ALLAH SWT tak akan turun kepada mereka yang durhaka… Kita menginginkan seorang anak yang berbakti atau bahkan lebih dari itu. Pertanyaanya sekarang adalah “Bakti apa yang sudah kita lakukan kepada orangtua terutama ibu…?”

Ah, Bus kampus sudah datang…semoga kelak mereka menjadi anak yang lebih baik dari hari ini…

 
17 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 31, 2011 in Goresan pena

 

Mereka adik2ku

Jum’at malam di mushalla yg kini telah merevolusi menjadi masjid, seperti biasa untuk melepas kerinduan kepada adik adik yang belajar disana saya berkunjung untuk melihat mereka belajar mengaji. Rasa hati seketika lapang dan senang melihat mereka belajar, begitupun mereka…wajah senang terlihat dari wajah polos dan lucu itu, melihat “kakak ganteng”nya datang…maklum, sudah beberapa hari ini saya tidak terlihat karna memang sedang mengurus beberapa hal di luar kota(ehm…).

Senyumpun saling berbalasan, dan saya langsung duduk sambil makan roti seribu rupiah diatas pagar masjid yang setinggi ±60 cm. Kontan mereka protes dan bilang  “kakak curang, malah jajan…kan sudah lewat jam 19:10…katanya kami nggak boleh jajan kalau sudah jam segitu” (dengan translet dari bahasa minang). Saya tertawa, karna memang saya yang buat peraturan itu, tapi langsung membela diri dengan bilang “lho..kakak kan nggak ngajar sekarang,kan belajarnya sama bang fadlan”(fadlan itu guru mereka yang juga adik saya di mesjid). Tau reaksi mereka…? jelas saja mereka nggak mau kalah (ciri khas anak sd) dan tambah protes serta kompak menyudutkan saya… Sayanya malah senang, karena memang itu tujuannya…”sedikit berkelahi” dengan wajah2 malaikat kecil itu.

Agar belajarnya tidak lama terusik dengan kedatangan saya, secepat kilat roti tadi saya habiskan (makan dengan wajah keenakan didepan mereka agar mereka iri) dan reaksinya sudah bisa saya tebak…mereka sebal dan senyum2 melihat ulah saya..(anehkan..) hehe…

Bang fadlan pun mulai membuka buku dan memberi intruksi untuk mencatat. Tapi belum lagi beberapa menit, salah seorang dari mereka minta izin dan bilang ke saya “kak, tunjuk an PR hanum ciek”(kak, kasih tau jawaban PR hanum ya)… Saya senyum dan bilang “belajar dulu nanti kakak bantu…”

Belajar dimulai, malam ini tentang rukun dan sunat shalat…13 rukun dan beberapa sunat shalat mereka pelajari…Sebuah materi penting yang justru ketika dicoba ditanyakan kepada mereka yang sudah berumur, malah kesulitan untuk menjawab…Semoga adik2ku ini tidak mengalaminya.

Beberapa menit setelah penjelasan, mereka diminta untuk menghafalkannya dan akan dievaluasi setelahnya…Kesempatan untuk bercanda lagi, maka saya pindah duduk dan duduk langsung dekat mereka…(hehe) Langsung saja, salah seorang dari mereka meminta saya untuk”menyimak” hafalannya…tapi dasarnya anak2, kalau lupa hafalan malah langsung tanya teman disampingnya…lah..?kalau saya diminta untuk menyimak,tapi hafalannya ditanyakan keteman…untuk apa??? saya bilang untuk hafal lagi…ehhh..dianya malah ngotot untuk tetap ditemani. Ini sebenarnya alasan saja agar mereka dapat ngusilin   saya…maklum, saya dikenal mereka suka humor sehingga belajarnya banyak senyum…walaupun saya lebih banyak ngusilin mereka.

Setelah belajar usai dan mereka diminta untuk langsung berwudu’ untuk shalat isya berjama’ah. Nah ini biasanya sedikit lama karna mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk bermain…maka tugas para guru untuk mengawal…

Selesai shalat yang diimami buya (kami memanggil beliau demikian) kemudian ,zikir,doa dan dilanjutkan dengan sedikit tausyah dari buya.. kemudian mereka bergiliran bersalaman dan kemudian pulang…  Tapi yang satu ini kembali menagih janji saya untuk “nunjukin “PRnya… ya sudah kembangkan buku LKS nya lagi…dan,pelajaran sejarah rupanya…

Buku LKS dibuka sekaligus buku untuk menjawab soal… “Ini kak,soal no 1…Kapan belanda datang ke Indonesia…?polosnya ia membaca soal dibuku…       Usil saya kumat, kontan saya menjawab ” ndehh..num…waktu balando tibo tu..kak alun laia lai… ba a caronyo tu…? hahaha…

segera saja cubitan itu hinggap dipinggang dan tangan saya… 😀 dan tentu saja saya balas ke pipi tembemnya…

Begitu selanjutnya dengan soal2 yang lain, saya usilin dulu baru dijawab… contohnya soal no 3: “kak, siapa yang mempin perang  padri di sumatera barat melawan belanda..?”…ya saya jawab saja…”Panglima perang”..huahaha…

yang jelas malam itu badan saya menerima cubitan dengan sukses…(perih juga lo)

Mereka  begitu polos, dan begitu khawatirnya saya dengan minimnya perhatian orang tua terhadap agama adik2 saya ini… hingga saya selalu berpikir ulang untuk meninggalkan mereka ketika akan bekerja diluar kota nanti..akankah saya dapat menemui kondisi dengan ikatan hati yang sedemikian erat ini lagi..atau bagaimana perkembangan mereka dengan kondisi lingkungan yang tidak mendukung untuk jiwa mereka sama sekali…

Orang tua bahkan tidak peduli dengan pakaian yang menutup aurat mereka, padahal dari mereka banyak yang wanita… sangat sedikit sekali yang melarang anaknya keluar malam untuk melihat orgen, yang sangat jelas sekali acaranya NOL BESAR akan ilmu…tapi malah penuh dengan hal sia2 dan pembodohan…

Apakah mereka diperhatikan shalatnya dirumah? apakah mereka diajak untuk membaca Al’quran di rumah..?Apakah mereka memperhatikan pergaulan anak2 mereka..?dengan siapa mereka berteman? pengaruh baik/buruk apa yang di bawa oleh temannya..? Apakah mereka khawatir dengan pergaulan anak gadisnya ketiak baligh nanti..? Karena jelas, tantangan adik2 saya saat ini jauh lebih berat dibandingkan masa ketika orang tua mereka masih muda..? seberapa banyak dari orang tua yang sadar akan hal ini..?

Benarlah perkataan seorang ustadz : Orang tua sekarang ini hanyalah sebatas orang tua biologis, sangat sedikit sekali yang menjadi orang tua sejati.!!!

Semoga ALLAH SWT selalu menjaga adik2 saya ini…

 
30 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 22, 2011 in Goresan pena

 

lagu sunda

http://www.stafaband.info/embed-15603.html

http://www.stafaband.info/embed-15605.html

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 2, 2011 in Goresan pena

 

Manfaat sarjana pertanian (SP)

Bismillahirrahmanirrahim…

Judul diatas sudah sangat jelas kemana arah dari tulisan ini. Sahabat, status Sarjana itu sejogyanya memberi arti lebih kepada orang lain bukan hanya diri sendiri. Apapun “jenis” sarjananya,asal bukan sarjana hasil korupsi alias curang. Fokus mungkin lebih kepada ilmu yang saya geluti selama beberapa tahun di Andalas University. Pertanian…

Sebuah komentar dari salah seorang penguji saat ujian komprehensif, “Saya bingung kalau ada Sarjana Pertanian yang nganggur…” .

Saya tersenyum dan berkata dalam hati “saya juga bingung pak..hehe..”

Berangkat juga dari pandangan seorang senior saat awal kuliah dulu “kalau setiap sarjana setelah tamat mencari kerja,yang bikin kerjanya siapa…?”

Sejak saat itu terpatri kuat didalam hati saya untuk menjadi seorang pengusaha. Yah, walaupun saat ini masih merangkak dengan tertatih tatih… tapi target itu saat kuliah sudah sempat saya capai,”memberikan lapangan kerja” walau masih dalam skala kecil.

Sahabat,usaha ini kami jalankan bersama. Sebuah bayangan sebelum tamat kuliah yang akhirnya terwujud. Usaha Jamur tiram.Belum begitu besar,tapi keyakinan itu sudah ada,tentunya dengan perhitungan.

Sarjana itu harus membawa efek positif lebih bagi lingkungan. Rezki ALLAH SWT yang atur teman…tinggal berusaha giat dan berdoa. Menerima penghasilan tetap perbulan memang tidak salah. Apalagi dengan niat membahagiakan orang tua…Tapi bagaimana dengan “Sarjana”nya..?

Mari munculkan mental pengusaha sahabat,keluar dari zona aman karena setiap zona dalam hidup ini akan tetap ada tantangannya.

 
12 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 3, 2010 in Goresan pena

 

Pentingnya sebuah semangat dan perhitungan

Bismillahirrahmanirrahim

Menuju langkah selanjutnya…

Siap memenuhi kebutuhan permintaan akan

Jamur Tiram Segar,

Baglog

dan

Bibit Jamur Tiram…

(Brain AC)

Agriculture Consultant

Padang Sumatera Barat

Hub: Marde 085274856015

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 2, 2010 in Goresan pena